kawasan di Jogja ini juga rentan

1. Jembatan Rentan roboh

Masih ingat pemberitaan di media media pada Nopember 2011 yang lalu bahwa di Kalimantan terjadi peristiwa runtuhnya jembatan yang menyeberangi sungai Mahakam “golden gate nya Kalimantan” yang menelan banyak korban jiwa? sudah tentu ambruknya jembatan adalah karena konstruksi jembatan yang tidak kuat terutama pada pemasangan pasak jembatan. padahal jembatan tersebut baru selesai dibangun pada tahun 2002 dan diperkirakan akan bertahan hingga puluhan tahun kedepan.

Nah waktu awal tahun 2012 waktu saya dan teman-teman kantor melakukan survey kecepatan tanah di daerah selatan Srandakan. Dan saat kami melewati jembatan di wilayah Srandakan saya melihat hal yang menarik dari gambar di bawah ini:

Dua gambar diatas merupakan foto dari jembatan yang melintasi sungai Kulon Progo yang berada di daerah Srandakan. Jembatan tersebut merupakan jembatan lama yang belum dibongkar. Dan sudah tidak difungsikan sebagai jalan utama kendaraan. Jika diperhatikan di foto tersebut tampak kondisi jembatan terlihat bengkok karena dua tiang beton penyangga jembatan ambles. Menurut keterangan dari seorang rekan yang tinggal di Srandakan, amblesnya tiang penyangga ini adalah karena karena disebabkan oleh usaha pengerukan pasir sungai Kulon Progo secara besar – besaran dan hal ini terjadi dari sebelum gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006 yang lalu. Sehingga dasar sungai menjadi tergerus dan labil serta pergerakan dasar sungai sehingga menyebabkan tiang penyangga jembatan ambles. Jembatan lama ini berada di sisi timur jembatan yang baru.

Walaupun sudah ada jembatan baru yang dijadikan jalur utama kendaraan, namun karena keberadaan jembatan lama ini masih tetap seperti pada gambar dan belum dirobohkan, hingga sekarang masih banyak juga masyarakat pengguna sepeda motor yang melintasi jembatan ini. Padahal bisa saja sewaktu-waktu tiang penyangga yang lain ikut ambles hingga yang mengkhawatirkan jembatan akan roboh dengan sendirinya seperti yang terjadi pada jembatan Kutai di Kalimantan. Jembatan ini sangat berbahaya apabila hanya dibiarkan begitu saja dan tidak ditindak lanjuti oleh pemerintah setempat karena masih digunakan oleh masyarakat sebagai jalur transportasi alternatif.

2. Rentan Banjir dan sumber penyakit

Mungkin pembahasan ini adalah hal yang klise di Indonesia serta bisa di sudut sudut daerah mana saja akan menjumpai hal seperti ini. Tapi tak ada salahnya jika kita selalu mengulas dan mengulas terus agar mind site kita dan para generasi pembangun bangsa ini sadar akan menghargai hidup rakyat dengan sebaik-baiknya.

Gambar di atas merupakan salah satu pemandangan dari sungai Winongo yang berada di sebelah utara jembatan Serangan Kecamatan Wirobrajan Yogyakarta. Rumah – rumah yang berada di sepanjang pinggir sungai tidak dilengkapi dengan tanggul penahan banjir, hal ini sangat berbahaya karena apabila curah hujan tinggi di musim penghujan tidak menutup kemungkinan air yang meluap akan sedikit demi sedikit menggerus tanah di sepanjang pinggir sungai yang mengakibatkan amblesnya pondasi bangunan, sehingga bisa menyebabkan rumah roboh. Selain itu masyarakat yang tinggal di lokasi tersebut sepertinya membuang sampah secara sembarangan di sepanjang pinggir sungai. Hal ini terlihat dengan banyaknya sampah yang menumpuk dan mengotori sungai. Jelas terlihat masyarakat setempat kurang sadar dengan kebersihan dan kesehatan. Karena lingkungan kumuh yang dapat memunculkan sumber penyakit seperti demam berdarah atau malaria.

Tampak terlihat juga pada gambar, ada masyarakat di sekitar sungai tersebut yang memanfaatkan air sungai untuk budidaya ikan air tawar. Ikan diletakkan di dalam kotak – kotak kayu yang diceburkan ke dalam sungai. Sehingga ikan yang dibudidayakan tidak hanyut bersama aliran sungai. Namun kondisi ini justru memprihatinkan karena ada kemungkinan ikan yang dibudidaya ikut tercemar oleh limbah rumah tangga yang mengoroti sungai, karena pada saat volume air sungai menurun, sungai hanya terlihat menggenang. Akibatnya apabila ikan – ikan tersebut dikonsumsi justru akan menimbulkan efek yang tidak baik dan menimbulkan penyakit didalam tubuh.

3. Kali Code rentan banjir dan longsor

Sepanjang bantaran Kali Code yang berada di kawasan kota Yogyakarta hampir seluruhnya padat dengan pemukiman penduduk. Penataan bangunan yang tidak rapi terkesan menumpuk selain sangat tidak indah dipandang mata, juga rentan mengalami longsor. hal ini disebabkan karena tidak ada lagi ruang terbuka yang dapat ditumbuhi dengan vegetasi. Fungsi dari vegetasi sendiri adalah untuk memperkuat struktur tanah dan menahannya dari longsor. Namun seakan hal tersebut sudah dilupakan oleh penduduk setempat. Satu atau dua pohon yang tumbuh tentu tidak cukup untuk memperkuat struktur tanah, apalagi tanah di bantaran sungai dalam kondisi miring. Mungkin saat ini kondisi tanggul masih dalam keadaan kokoh di beberapa tempat tertentu karena memang dibangun untuk mengurangi risiko banjir lahar dingin yang dimungkinkan masih akan terjadi, namun di tempat lain masih tidak terdapt tanggul yang melindungi rumah penduduk dari aliran Kali Code, sehingga pada musim penghujan kawasan ini rentan terhadap banjir. dan sungai ini adalah salah satu jalur dari aliran lahar letusan Merapi, sehingga sudah menjadi langganan banjir lahar.

1 thought on “kawasan di Jogja ini juga rentan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s