Tanda, karakteristik dan strategi efektif pengurangan risiko Tsunami

Tsunami adalah peristiwa yang jarang terjadi namun sebenarnya didahului oleh tanda-tanda terlebih dahulu. Tanda-tanda akan datangnya tsunami adalah:

  1. Tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi tektonik maka kejadiannya selalu didahului oleh gempa besar yang terjadi di dasar laut dengan kekuatan >7 SR pada kedalaman yang dangkal <60 km. lihat gambar.
  2. Mekanisme patahan gempa pada lempeng di dasar laut adalah jenis patahan naik/turun (normal/reverse fault)
  3. Sesaat setelah gempa terjadi, air surut terlebih dahulu menuju laut hingga mencapai panjang tertentu.
  4. Tsunami juga dapat terjadi karena peristiwa letusan gunung api di bawah laut, longsor di bawah laut, dan/atau akibat dari hamtaman meteor di tengah laut.

Air surut setelah terjadi gempa besar, masyarakat tidak segera menjauh dari pantai justru mencari ikan-ikan yg terdampar.

Karakter secara umum dari gelombang tsunami itu sendiri adalah:

  1. Tsunami mengandung berbagai komponen gelombang karena gelombang tsunami mengalami proses shoaling, refraksi, difraksi dan refleksi, yang pengertiannya saya tuliskan di postingan sebelumnya pada judul mengenal karakter tsunami.
  2. Kecepatan jalar gelombang tsunami berkaitan erat dengan kedalaman air laut yang dilaluinya. Sedangkan tinggi gelombang tsunami berbanding terbalik dengan kedalaman laut.
  3. Bila kedalaman laut berkurang setengahnya, maka kecepatan penjalaran gelombang berkurang tiga perempatnya. Sedangkan tinggi gelombang tsunami justru akan bertambah jika mendekati pantai, karena adanya perubahan kedalaman laut yang dilalui tsunami. Di laut lepas tsunami memiliki kecepatan merambat yang sangat tinggi, yaitu bisa mencapai 200 m/s atau 700 km/jam. lihat gambar.
  4. Berkaitan dengan panjang gelombang tsunami yang sangat panjang, Tsunami mempunyai energi yang sangat besar hal ini dikarenakan secara teoritis disebutkan bahwa kehilangan energi pada perambatan gelombang berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya. Sehingga dalam penjalarannya tsunami hanya kehilangan sedikit energi.

Dari tanda-tanda tersebut diharapkan masih ada waktu dalam proses evakuasi penduduk yang berada di sepanjang pantai. Selanjutnya dapat dipelajari dan dibuat strategi bagaimana melakukan proses penyelamatan secepat mungkin. Dalam mengembangkan strategi efektif dalam pengurangan risiko tsunami maka hal yang perluĀ  dikembangkan adalah:

  1. Sistem peringatan dini ( yang akan saya tuliskan dalam postingan yang akan datang).
  2. Pembuatan peta rawan tsunami dan peta genangan tsunami
  3. Kesadaran mengenai tsunami yang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi evakuasi.

Pemetaan Tsunami

Pemetaan rawan tsunami di Indoensia berdasarkan sejarah terjadinya tsunami dan kemungkinan akan terjadinya tsunami dengan mempertimbangkan potensi wilayah di Indoensia.

Wilayah rawan tsunami di Indoensia ditandai dengan garis merah (berada di sepanjang jalur subduksi)

Karakter tsunami di satu wilayah dengan wilayah yang lain tentu akan berbeda karena adanya perbedaan topografi, garis pantai, dan demografi di wilayah tersebut. Untuk satu wilayah dengan wilayah yang lain juga terdapat perbedaan untuk kecepatan, ketinggian, inundation, luasan genangan dari terjangan tsunami. Sehingga peta genangan tsunami ini sangat penting peranannya untuk mengetahui seberapa jauh dan seberapa luas wilayah yang tergenang tsunami, dan ketinggian maksimal dari genangan tsunami. Tentunya pembuatan peta tsunami dibuat berdasarkan dari sejarah aktivitas tsunami yang pernah terjadi di wilayah tersebut, dan didukung dengan perhitungan dari teori-teori yang telah dibuat oleh para ahli mengenai tsunami. Dalam hal ini bagi saya perlu adanya pembelajaran yang lebih jauh lagi untuk dapat melakukan perhitungan mengenai tsunami.

Peta inundation pasca tsunami Jepang 2011 (http://www.bmkg.stageoflampung.com)

Strategi efektif pengurangan Risiko Tsunami

Menurut FEMA 646 strategi efektif pengurangan risiko tsunami pada prinsipnya adalah bagaimana caranya mengevakuasi penduduk ke kawasan yang lebih tinggi dari ketinggian maksimal genangan tsunami tersebut dalam waktu secepat mungkin. Proses evakuasi yang sangat efektif adalah dengan evakuasi ke atas struktur bangunan vertikal. Mengapa evakuasi vertikal? Beberapa pertimbangannya adalah jika:

  1. Tidak ada dataran tinggi/perbukitan di sekitar wilayah rawan tsunami
  2. Evakuasi horisontal dianggap tidak praktis dan membutuhkan waktu yang lama untuk proses penyelamatan
  3. Evakuasi ketingkat atas dengan struktur bangunan vertikal dianggap paling potensial.

Struktur bangunan vertikal yang digunakan secara spesifik sebagai tempat perlindungan dari tsunami adalah dengan ketentuan berupa :

  1. Bangunan atau tanah gundukan yang memiliki ketinggian yang cukup untuk menampung pengungsi di atas tingkat genangan tsunami
  2. Dirancang dan dibangun dengan kekuatan dan ketahanan yang dibutuhkan untuk melawan efek dari gempa dan gelombang tsunami. ( Bangunan yang digunakan untuk evakuasi vertikal tentunya harus tahan terhadap gempa yang terjadi dan dari kekuatan terjangan gelombang tsunami).

salah satu contoh vertical evacuation di Jepang yang berada di Shirahama beach resort

Photo courtesy of N. Shuto (FEMA 646)

Mengenai VE akan dibahas dalam postingan selanjutnya.

Referensi:

  1. BMKG
  2. FEMA 646
  3. http://www.bmkg.stageoflampung.com

artikel terkait :

1. Mengenal karakter Tsunami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s