Pengurangan risiko bencana melalui Optimalisasi struktur bangunan

Banyaknya korban bencana gempa bumi justru tidak disebabkan oleh bencana itu sendiri melainkan akibat tertimpa oleh bangunan atau benda-benda lain yang menyebabkan orang di dalamnya bisa luka-luka atau bahkan meninggal. Sehingga sangat penting pada wilayah rawan bencana gempa bumi untuk melakukan optimalisasi kekuatan struktur bangunan apalagi pada bangunan-bangunan yang mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai pelayanan publik seperti rumah sakit dan sekolahan.

Tahap Evaluasi

Tahap pengurangan risiko bencana dapat dilakukan melalui evaluasi kinerja bangunan. Evaluasi dilakukan pada struktur utama bangunan seperti: pondasi, balok, kolom, pelat, dan ditunjang oleh atap dan dinding bangunan. Baru kemudian dilakukan evaluasi pada komponen tambahan yang menjadi komponen penunjang operasional/layanan dari fungsi bangunan tersebut.

Tahap kesiapsiagaan dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Pada bangunan, tahap ini dilakukan dengan cara inspeksi rutin atau audit bangunan.

Pengelompokan kerusakan bangunan pasca gempa bumi dapat dibagi menjadi 5 kriteria sebagai berikut:

1.       Operational (sinyal hijau)

Pasca terjadi gempa fungsi bangunan tersebut masih bisa berjalan seperti sebelum terjadi gempa, tidak ada kerusakan struktural, jaringan listrik dan telekomunikasi masih menyala, dan masih dapat melakukan aktifitas operasional fungsi bangunan dengan baik. Bangunan seperti ini dianjurkan untuk studio TV, Rumah sakit, Bank, dll, terutama bangunan yang digunakan sebagai pelayanan publik.

2.       Immediate Occupancy(sinyal kuning)

Pada fungsi bangunan sudah tidak dapat melakukan layanan publik karena jaringan listrik atau jaringan komunikasi sudah terputus, sehingga hanya sebatas bisa ditempati kembali. Namun struktur bangunan masih bagus, hanya kerusakan-kerusakan terjadi pada fasilitas tambahan seperti kaca jendela, dan perabotan.

3.       Life Savety(sinyal orange)

Pada bangunan boleh terjadi kerusakan pada struktur dan non struktur namun tidak boleh ada korban jiwa. Ditandai dengan  jaringan listrik atau telekomunikasi sudah terputus tembok runtuh sebagian, retak/patah sebagian pada struktur, Kaca-kaca jendela pecah. (perlu dilakukan rekonstruksi  atau penguatan pada struktur)

 4.       Collape Prevention(sinyal merah)

Boleh ada korban jiwa di dalam bangunan tapi tidak boleh banyak. Ditandai dengan atap rubuh, dinding dan struktur mengalami retakan disana sini, atau bahkan sebagian runtuh. Dan harus ada rekonstruksi pada bangunan.

 5.       Collape

Bangunan runtuh total dan tidak ada yang tersisa dari bangunan yang bisa diselamatkan.

sumber: FEMA

sumber: FEMA

Dalam program pengurangan risiko bencana, saat ini pada bangunan-bangunan sudah dapat didesain sesuai dengan kinerja bangunan itu sendiri pada saat mengalami goncangan gempa. Sudah ada code-code standar dalam melakukan pembangunan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Hal mendasar yang diperlukan adalah mengenai RAB sebagai perhitungan biaya pembangunan. Tentu saja untuk mendapatkan bangunan yang semakin kuat (kelas bangunan operasional) maka biaya yang dibutuhkan juga semakin mahal. Namun untuk bangunan-bangunan layanan publik dan yang memiliki fungsi yang sangat penting untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, seperti rumah sakit dan sekolahan maka sudah tentu Pemerintah ikut bertanggungjawab dalam hal pembangunannya.

Tahap Rekonstruksi

Pengertian rekonstruksi menurut UURI No.24 th.2007 tentang penanggulangan bencana adalah: Pembangunan kembali prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintah maupun masyarakat dengan sarana utama tumbuh dan perkembangan kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

  • Kegiatan Rekonstruksi pasca bencana:
  • Pembangunan kembali bangunan prasarana dan sarana yang rusak sesuai dengan pengelompokan kinerja bangunan pasca gempa.
  • Evaluasi penelitian penyebab kerusakan untuk bahan perencanaan penyusunan rencana pembangunan kembali secara konseptual agar hasilnya lebih baik dari semua menetukan prioritas pelaksanaan pembangunan sesuai kepentingan masyarakat, pengawasan mutu bangunan agar kualitas sesuai yang direncanakan.
  • Melakukan perbaikan bangunan yang memang masih bisa diperbaiki, sehingga bangunan tersebut bisa berfungsi kembali seperti sebelum terjadi gempa.
  • Program jangka menengah dan jangka panjang supaya masyarakat dapat mengembalikan kehidupannya seperti sebelum terjadi bencana, atau  yang lebih baik lagi.
  • Melakukan perbaikan dengan code SNI terbaru.

Referensi:

  1. Konsep SNI gempa
  2. FEMA
  3. Presentasi ERRS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s