Manajemen risiko bencana gempa pada bangunan

Urutan dalam manajemen risiko bencana gempa terhadap bangunan adalah sebagai berikut:

  1. Tahap pengurangan
  2. Tahap kesiapsiagaan
  3. Tahap tanggap darurat
  4. Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi

Dengan memakai logika : mengurangi dulu baru siapa siaga, sehingga jika gempa terjadi maka diharapkan tidak terjadi kerusakan atau kerusakannya kecil.

1.  Tahap Pengurangan Risiko bencana

  1. Membuat peta ancaman (Hazard map).
  2. Membuat Design bangunan baru berbasis kinerja (performance based design).
  3. Melakukan evaluasi kerentanan bangunan yang ada terhadap gempa; Apakah: operational, immediate occupancy, life safety, atau collape prevention.
  4. Melakukan retrofitting untuk mengurangi kerentanan bangunan yang ada.

Pada saat tidak terjadi bencana, dapat dilakukan manajemen pengurangan risiko bencana gempa pada bangunan-bangunan yang sudah ada dengan melakukan tahap evaluasi pada bangunan. Setelah evaluasi dan tindakan pada suatu bangunan yang berisiko, ada 3 pilihan yang dapat dilakukan yaitu:

  • Retrofitting : dengan perkuatan/perbaikan, dengan cara penambahan bracing, damper (shock backer), karet antara pondasi dan kolom.
  • Demolition : dibongkar dan dibangun kembali.
  • Berisiko : Tidak ada tindakan pada bangunan setelah dievaluasi, sehingga pilihannya adalah bangunan tetap berisiko jika terjadi gempa.

Tahap evaluasi tidak hanya dilakukan pada kekuatan struktur bangunan namun juga pada bentuk bangunan. Karena bentuk/desain bangunan juga sangat mempengaruhi pola gerak struktur jika mengalami getaran akibat gempa.

2.  Tahap Kesiapsiagaan

  1. Memasang sistem peringatan dini akan terjadinya bencana
  2. Simulasi/drilling: Melatih para penghuni tentang apa yang harus dilakukan apabila terjadi bencana
  3. Menyiapkan jalur – jalur evakuasi
  4. Menentukan tempat berkumpul apabila terjadi bencana
  5. Menyiapkan logistik dan peralatan yang diperlukan jika sewaktu-waktu terjadi bencana.
  6. Mengatur tata letak isi bangunan

Tata letak isi/dekorasi bangunan sangat berpengaruh jika terjadi gempa. Karena akibat yang ditimbulkan dari dekorasi yang jatuh atau pecah juga dapat mengancam keselamatan penghuninya. Di sisi lain dekorasi yang memadai contohny seperti adanya bangku yang kuat di suatu ruangan juga dapat menjadi pelindung bagi penghuni agar tidak tertimpa material yang jatuh.

3.  Tahap Tanggap Darurat

Tahap ini secepatnya dilakukan setelah gempa terjadi. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah:

  1. Melakukan evaluasi keamanan bangunan untuk memutuskan apakah bangunan dapat digunakan kembali atau tidak.
  2. Membuat bangunan-bangunan sementara/shelter
  3. Melakukan perubahan time-scedule
  4. Manajemen penggunaan bangunan pasca gempa

Pada proses evaluasi:

  • Analisa bahwa bangunan dapat mengalami kerusakan akibat gempa
  • Untuk memastikan bangunan aman/tidak untuk digunakan kembali setelah gempa perlu dilakukan evaluasi
  • Evaluasi pasca gempa umumnya dilakukan dengan evaluasi visual secara cepat.
  • Hasil evaluasi ada 3 kategori:
    1. Aman = hijau
    2. Kurang aman = Kuning
    3. Tidak aman = Merah

4.  Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi

  • Rehabilitasi bangunan rusak & rekonstruksi bangunan roboh harus berdasar persyaratan yang berlaku saat ini.( contohnya dengan menggunakan code standard dari SNI terbaru atau FEMA)
  • Atau dapat dilakukan proses Relokasi Bangunan ke lokasi yang lebih aman terhadap gempa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s