Identifikasi Kualitas Struktur Bangunan

Daniel Rumbi Teruna dan Hendrik Singarimbun dalam sebuah makalah yang disampaikan pada acara seminar dan pameran HAKI 2010 dengan judul “ Analisis Response Bangunan ICT Universitas Syiah Kuala Yang Memakai Slider Isolator Akibat Gaya Gempa ”, menjelaskan didalam pendahuluan bahwa besar kecilnya kerusakan komponen struktur dan nonstruktur akibat getaran tanah tidak hanya tergantung kepada karakteristik gempa saja. Namun ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi kerusakan bangunan akibat gempa. Yang pertama adalah faktor karakteristik dari gempa yang terjadi, antara lain: percepatan puncak muka tanah, durasi gempa, frekuensi gempa dan panjang patahan. Yang kedua adalah faktor karakteristik lokasi dimana bangunan didirikan, antara lain: jarak bangunan ke pusat gempa, struktur geologi antara bangunan ke pusat gempa, jenis lapisan dilokasi bangunan, dan waktu getar alami tanah di lokasi bangunan didirikan. Yang ketiga adalah faktor dari karakteristik struktur, antara lain: waktu getar alami dari struktur bangunan, redaman dari struktur bangunan, dan persyaratan serta konsep detailing yang direncanakan. Faktor yang pertama dan kedua diatas merupakan kejadian alam yang harus diperhitungkan pengaruhnya terhadap bangunan yang direncanakan, tetapi faktor yang ketiga merupakan properti dinamis dari bangunan yang dapat diubah atau direkayasa sedemikian rupa agar pengaruh gempa terhadap bangunan yang direncanakan dapat diminimalisir.

Menurut Masykur Kimsan dalam hasil penelitian thesisnya pada tahun 2009 yang berjudul “Identifikasi Kerusakan Struktur Portal 2 Dimensi Dengan Metode Frequensi Respons Function (FRF) ”, bahwa pembahasan dalam hubungannya dengan struktur bangunan, identifikasi mengenai kekuatan dan atau kerusakan struktur merupakan bidang penelitian yang cukup mendapat perhatian semenjak terjadinya bencana-bencana besar khususnya gempa bumi yang terjadi di beberapa negara di dunia. Aspek ekonomi dan keamanan menjadi motivasi terbesar dalam pengembangan penelitian ini, karena selalu mempunyai tujuan utama dalam rangka untuk mengurangi korban jiwa dan kerugian akibat dari kerusakan bangunan. Dalam perkembangannya, metode identifikasi kerusakan struktur dalam bidang analisis parameter dinamik terbagi dalam 2 (dua) kelompok yakni metode tradisional (analisis frekuensi dan ragam getar) dan metode respon frekuensi. Berbeda dengan metode tradisional, metode respon frekuensi melakukan analisis tidak terbatas hanya pada frekuensi alaminya. Salah satu metode respon frekuensi adalah metode Frequency Respon Function (FRF).

 

Secara garis besar Metode Identifikasi Struktur ( MIS ) telah diuraikan oleh Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE., Ph.D, IPU dalam studi yang telah dilakukan ( 1998, 2001, 2002a, 2002b ). Metode Identifikasi Struktur ( MIS ) adalah metode identifikasi sistem yang diterapkan pada struktur sebagai sistem penahan beban. Identifikasi sistem dapat dilakukan secara nonparametrik maupun parametrik ( Sinha dan Kuszta, 1983 ). Identifikasi struktur non-parametrik digunakan untuk mencari bentuk-bentuk model analitik yang sesuai-mungkin untuk merepresentasikan perilaku dinamika struktur. Sementara itu, pada proses identifikasi struktur parametrik, bentuk atau jenis model analitik sudah ditentukan, tujuan utamanya adalah mengidentifikasi parameter fisik struktur maupun parameter ragam getaran. Parameter ragam getaran misalnya adalah waktu getar alami ragam ( modal natural period) , frekuensi ragam ( modal frequency ), rasio redaman ragam ( modal damping ratio ), ragam bentuk ( modal shape ), dan faktor partisipasi ragam ( modal participation factor ). Parameter fisik struktur misalnya adalah kekakuan ( stiffness ), kekuatan ( strength ), dan nilai redaman ( damping value ).

Prof. Sarwidi menjelaskan, pada dasarnya perilaku dinamika struktur mempelajari mengenai perilaku struktur jika struktur tersebut mendapat beban dinamis, yaitu beban yang berubah-ubah menurut fungsi waktu ( timevarying). Salah satu contoh analisis mengenai perilaku dinamika struktur sebagai representasi dari identifikasi struktur non-parametrik adalah penelitian yang dilakukan oleh Sudarsana dkk (2001) dalam judul penelitiannya “ Perilaku Dinamis Struktur beton Bertulang Dari Gedung Beraturan Dengan Daktilitas ( Nilai R ) Subsistem Struktur yang Berbeda ”. Dalam penelitian tersebut untuk mengetahui perilaku dinamis struktur akibat dari kedua kondisi pembebanan gempa tersebut, dilakukan analisis terhadap sebuah struktur beton bertulang dari gedung beraturan dengan subsistem struktur dinding geser dan rangka beton bertulang yang memiliki daktilitas berbeda. Kedua kondisi pembebanan tersebut adalah beban gempa yang direduksi dengan Rr dan direduksi dengan Rs. Yangmana Rr adalah beban gempa yang direduksi oleh faktor reduksi gempa representatif sesuai dengan SNI 2002 dan Rs adalah beban gempa yang direduksi oleh faktor reduksi gempa masing-masing subsistem struktur. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku dinamis struktur yang dibebani dengan beban gempa direduksi dengan Rr tidak sama dengan perilaku dinamis struktur bila dibebani dengan beban gempa dengan Rs.

Dalam Laporan studi Prof. Sarwidi juga dijelaskan bahwa pada proses identifikasi struktur parametrik, bentuk atau jenis model analitik sudah ditentukan, tujuan utamanya adalah mengidentifikasi parameter fisik struktur maupun parameter ragam getaran. Parameter fisik struktur misalnya adalah kekakuan ( stiffness ), kekuatan ( strength ), dan nilai redaman ( damping value ). Sedangkan untuk parameter ragam getaran meliputi; Waktu getar alami ragam ( modal natural period ), Frekuensi ragam ( modal frequency ), Rasio redaman ragam ( modal damping ratio ), Ragam bentuk ( modal shape ), dan Faktor partisipasi ragam ( modal participation factor ). Waktu yang diperlukan oleh struktur untuk melakukan suatu goyangan lengkap, disebut periode getar atau waktu getarstruktur. Suatu struktur biasanya mempunyai sejumlah periode getar, dimana periode getar yang terpanjang disebut periode dasar atau periode alami ( fundamental period).

 

Pada umumnya bangunan-bangunan Teknik Sipil mempunyai kekakuan lateral yang beraneka ragam, sehingga mempunyai periode getar yang berlainan juga. Periode getar dari struktur bangunan Teknik Sipil, pada umumnya berkisar antara 0,2 detik untuk bangunan yang rendah atau sangat kaku, sampai 9 detik untuk bangunan yang sangat tinggi atau sangat fleksibel.

 

Analisa modal adalah suatu proses yang ditujukan untuk menentukan karakteristik-karakteristik dinamik dari suatu sistem struktur. Dimana karakteristik-karkateristik tersebut meliputi; Frekuensi natural, Moda getar, dan, Rasio redam. Ketiga karakteristik dinamik ini didefinisikan oleh properti fisik serta distribusi spasial daripada komponen penyusun sistem struktur.

Untuk sistem SDOF, yang dimaksud dengan frekuensi natural adalah frekuensi dimana suatu sistem struktur yang memiliki massa dan kekakuan bergerak ketika berikan suatu eksitasi awal kemudian eksitasi tersebut dihilangkan sehingga struktur tersebut bergetar secara bebas. Lalu bentuk dari perpindahan dari struktur tersebut bergetar ketika bergetar disebut dengan moda getar. Frekuensi getar dipengaruhi oleh properti fisik dari struktur, yaitu massa dan kekakuan.

Indentifikasi kerusakan pada struktur dapat menggunakan data modal dinamik ( mode shapes dan frekuensi ). Salah satu penelitian mengenai identifikasi struktur ini adalah yang dilakukan oleh Musbar ( 2007 ) dalam Thesisnya yang berjudul “ Identifikasi Kerusakan Struktur Balok Dengan Menggunakan Analisis Data Modal Dinamik ”. Tujuan dari penulisan tesis ini adalah untuk mengindentifikasikan kerusakan struktur balok dengan menggunakan data modal dinamik ( mode shapes dan frekuensi ) serta membandingkan efektivitas dari metodologi yang diusulkan dengan menerapkannya pada struktur yang sama dan disamping itu, untuk merumuskan metodologi identifikasi kerusakan struktur baru berdasarkan metoda pengujian yang dapat digunakan untuk menaksir kerusakan dari struktur yang ada. Beberapa metode yang diusulkan yaitu; metode berdasarkan perubahan mode shapes dan frekuensi, metode fleksibilitas, metode perubahan curvature mode shapes dan metode FRF curvature. Metode-metode yang diusulkan ini mengindentifikasi kerusakan struktur balok berdasarkan beberapa skenario sebagai berikut : kerusakan tunggal ( single), ganda ( double) dan kerusakan banyak ( multiple).

Pada sistem MDOF, frekuensi natural dan moda getar diketahui dengan penggunaan persamaan karakteristik ( eigenvalue equation). Dalam dinamika struktur, akar dari nilai eigen dikenal dengan frekuensi natural ( ωn ) dan vektor eigen dikenal dengan moda getar ( φn ). Dimana tiap moda memiliki satu eigen value dan satu vektor eigen. Dan layaknya SDOF, pada sistem MDOF komposisi massa dan kekakuan menentukan nilai frekuensi natural dan moda getar suatu sistem struktur. Redaman adalah proses dimana terjadinya pengurangan amplitudo dari suatu getaran akibat terdisipasinya energi akibat gesekan dan hal lainnya. Untuk kasus dimana terdapat redaman, persamaan gerak untuk sistem MDOF dengan kondisi getaran bebas adalah :

𝒎𝒖̈ + 𝒄𝒖̇ + 𝒌𝒖 = 𝟎 , Dimana c adalah konstanta redaman yang merupakan energi yang terdisipasi pada suatu siklus getaran bebas ataupun getaran paksa yang harmonik. Kemudian yang dimaksud dengan rasio redaman ( ζ ) adalah suatu nilai tidak berdimensi yang bergantung pada properti fisik suatu sistem struktur (massa dan kekakuan), yaitu perbandingan antara konstanta redaman dengan konstanta redaman kritis ( ζ=c/2mω ).

Henry Hartono Staf pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta melakukan penelitian mengenai “ Analisis Kerusakan Struktur Bangunan Gedung BAPPEDA Wonogiri ”. Latar belakang dilakukannya penelitian tersebut adalah bahwa adanya rembesan air pada plat dan balok lantai 1, serta kolom lantai dasar. Merembesnya air di gedung BAPPEDA tersebut apabila dibiarkan terlalu lama dan berulang-ulang akan mengakibatkan kerusakan struktur, yaitu terjadi korosi pada baja tulangan yang selanjutnya akan terjadi penurunan mutu beton dan dampak yang lebih besar lagi akan terjadi berkurangnya kehandalan struktur.

 

Penelitian yang dilakukan oleh Henry Hartono tersebut dilaksanakan dengan tujuan, yang pertama adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat kerusakan struktur bangunan gedung, yang kedua untuk mengetahui faktor – faktor penyebab terjadinya rembesan air pada struktur gedung dan menetapkan metode perbaikan yang tepat dan ekonomis. Sedangkan manfaat yang diharapkan penulis dari penelitian tersebut antara lain adalah untuk memberikan suatu masukan pada para Akademisi tentang alternatif penanganan perawatan bangunan, terutama yang menggunakan sumber dana terbatas, dan hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan masukan kepada instansi di Kabupaten Wonogiri bahwa permasalahan yang terjadi pada bangunan gedung Pemerintah tidak hanya pada perencanaan struktur dan pelaksanaan konstruksi saja, tetapi juga perlu dipikirkan mengenai masalah pengoperasian, perawatan, dan insfrastruktur serta pengendalian dalam pelasanaannya. Terjadinya korosi pada suatu bangunan mempengaruhi masa layan dari bangunan tersebut, karena kinerja komponen struktur bangunan menurun. Guna mencapai umur bangunan sesuai dengan rencana, maka diperlukan pemeliharan bangunan dan perawatan bengunan secara terus menerus.

 

Henry menjelaskan dalam memahami suatu kerusakan struktur beton perlu diketahui tentang mutu dan pengolahan beton. Hal tersebut akan berpengaruh pada kuat tekan beton. Karena sifat utama dari bahan beton adalah sangat kuat menerima beban tekan, maka untuk mengetahui mutu beton maka perlu ditinjau terhadap kuat tekan betonnya. Mutu beton dibedakan menjadi 3 ( tiga ) yaitu : beton dengan f’c kurang dari 10 MPa digunakan untuk beton non struktur, beton dengan f’c 10 MPa ke atas dan kurang dari 20 MPa biasanya digunakan untuk beton struktur. Khusus untuk struktur bangunan tahan gempa dipakai mutu beton f’c minimal 20 Mpa. Faktor – faktor yang mempengaruhi kuat tekan beton yaitu = faktor air semen, faktor – faktor sifat agregat, jenis semen, umur beton dan perbandingan campuran beton. Pengolahan beton merupakan faktor yang perlu diperhatikan agar mutu beton tersebut sesuai dengan yang disyaratkan. Pengolahan beton ini meliputi ; pengadukan beton, penuangan beton, pemadatan, perataan dan perawatan beton.

 

Kuat tekan beton akan menurun apabila terjadi kerusakan pada beton. Macam kerusakan beton antara lain : (1). Retak ( crack ) adalah retak pada permukaan beton karena mengalami penyusutan, lendutan akibat beban hidup ( live load ) / beban mati ( dead load ), akibat gempa bumi maupun perbedaan temperatur yang tinggi pada waktu proses pengeringan. Retak ( crack ) dapat dibedakan menjadi 3 ( tiga ) macam yaitu : retak kecil dengan lebar retakan kurang dari 0,5 mm, retak sedang dengan lebar retakan antara 0,5 mm – 1,2 mm, dan retak besar dengan lebar retakan lebih dari 1,2 mm. (2). Macam kerusakan beton yang kedua adalah pengelupasan ( spalling ) pada struktur yaitu terkelupasnya selimut beton besar atau kecil sehingga tulangan pada beton tersebut terlihat, hal ini apabila dibiarkan dengan bertambahnya waktu, tulangan akan berkarat / korosi akhirnya patah ( penjelasan dari Crane, 1985 dan Roomfiled, 1997 ). Untuk perbaikan beton perlu dipilih bahan perbaikan yang memenuhi sifat bahan (Suhendro, 2001) yaitu : 1). Stabilitas bentuk, 2). Koefisien muai panas, 3). Modulus Elastisitas, 4). Permeabilitas. Sistem atau metode perbaikan beton harus dipilih/disesuaikan berdasarkan tingkat kerusakannya. Macam metode perbaikan beton yaitu: a). Coatin, b). Injection (Grouting), c). Shotcrete, d). Prepacked concrete, e). Jacketing, f). Penambahan tulangan.

 

Metode penelitian yang dilakukan oleh Henry Hartono adalah dengan beberapa tahapan, yangmana pertama adalah melakukan penelitian dokumen teknis gedung, yang kedua adalah analisis data, ketiga adalah pengamatan pada kondisi struktur gedung BAPPEDA Wonogiri yang dilakukan dengan dua cara yaitu pengamatan secara visual dan pengujian porositas beton yang dilakukan pada plat beton. Dari pengamatan visuil terhadap kondisi struktur bangunan Gedung kantor BAPPEDA Kabupaten Wonogiri, ditemukan kerusakan struktur atau merembesnya air pada plat lantai, balok lantai dan kolom, maka sesuai dengan tujuan dan manfaat penelitian ini, yaitu untuk mengetahui penyebab kerusakan elemen struktur perlu mengkaji dokumen teknis pembangunannya yang meliputi gambar perencanaan dan rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).

 

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Henry Hartono terhadap analisis gedung BAPPEDA ini diperoleh hasil antara lain hasil untuk pengamatan secara visual, hasil pengamatan porositas beton, dan hasil kajian dokumen teknis dimana untuk kajian secara teknis ini yang dilihat adalah berupa gambar perencanaan, kemudian hasil kajian pengawasan proyek yang dipelajari dari data – data dokumentasi pembangunan gedung, serta hasil analisa kerusakan struktur. Dimana untuk hasil analisa kerusakan struktur ini  diperoleh penyebab keretakan beton antara lain : 1. Proses pemadatan beton yang tidak sempurna mengakibatkan beton berongga yang akhirnya menimbulkan keretakan; 2. Perawatan beton yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pada saat beton berumur sampai dengan 28 hari, mengakibatkan pengerasan beton permukaan dan bagian dalam beton tidak bersamaan, karena bagian luar sudah mengeras, sedang bagian dalam belum terjadi pengerasan, akhirnya mengakibatkan keretakan. Dengan demikian adanya keretakan pada beton dan rembesan air akan terjadi proses keasaman pada baja tulangan, akibat selanjutnya baja akan mengembang dan menjadi keropos. Baja yang mengembang atau bertambahnya volume baja akan mengakibatkan keretakan yang lebih parah dan kerusakan beton. Baja yang keropos akan putus sehingga fungsi baja tulangan dalam beton yaitu menahan gaya tarik akan berkurang dan pada tahap tertentu akan tidak berfungsi sama sekali. Akibat selanjutnya akan terjadi keruntuhan struktur pada struktur yang mengalami keretakan dan rembesan air.

 

Proses identifikasi kerusakan struktur juga pada akhirnya menyimpulkan bagaimana alternatif perbaikan yang perlu dilakukan pada  kerusakan struktur tersebut. Mengenai metode perbaikan yang direkomendasikan oleh Henry Hartoyo dalam penelitiannya secara garis besar adalah merekomendasikan dua alternatif perbaikan, yang pertama adalah perbaikan ringan hingga sedang, dan yang kedua adalah perbaikan berat. Pada perbaikan ringan maka yang dilakukan hanyalah pengelupasan pada plesteran struktur beton yang secara visual mengalami rembesan air dan ditambal dengan plesteran baru. Perbaikan sedang adalah dengan melakukan perbaikan retak pada beton dilakukan dengan jalan injeksi atau grouting dengan bahan produk FOSROC jenis Epoxy Grouts, yaitu : (a) Retak kecil atau berpori-pori kecil menggunakan Conbextea EP 10 TG, (b) Retak sedang menggunakan Conbextea EP 40 TG, (c) Retak besar menggunakan Conbextea EP 65 TB. Untuk perbaikan berat pada Gedung Kantor BAPPEDA ini dilakukan pada : Plat lantai teras, balok lantai dan kolom. Adapun alternatif perbaikan berat ditentukan oleh jenis kerusakan strukturnya yang meliputi : coating, injection,shotcrete, prepacked concrete, jacketing dan penambahan tulangan. 3a). Coating.

 

Perbaikan coating adalah melapisi permukaan beton dengan cara mengoleskan atau menyemprotkan bahan yang bersifat plastik dan cair. Lapisan ini digunakan untuk menyelimuti beton terhadap lingkungan yang merusak beton. Metode ini tidak direkomendasikan karena dengan coating atau melapisi permukaan beton akan menyebabkan air dalam beton terperangkap atau tidak terjadi penguapan. 3b). Injection (grouting). Perbaikan injection adalah memasukkan bahan yang bersifat encer kedalam celah atau retakan pada beton, kemudian diinjection dengan tekanan, sampai terlihat pada lubang atau celah lain telah terisi atau mengalir keluar. Metode ini direkomendasikan untuk perbaikan dengan mempertimbangkan dan menggabungkan dengan metode perbaikan yang lain. 3c). Shotcrete. Perbaikan Shotcrete adalah menembakkan mortar atau beton dengan ukuran agregat yang kecil, pada permukaan beton yang akan diperbaiki. Shotcrete dapat digunakan untuk perbaikan permukaan yang vertikal maupun horisontal dari bawah. Metode ini tidak direkomendasikan karena metode ini hanya cocok untuk retak yang lebar, sedangkan permasalahan dari struktur Gedung kantor BAPPEDA Wonogiri adalah korosi pada struktur dengan retak beton yang kecil dan sedang. 3d). Prepacked Concrete. Perbaikan prepacked concrete adalah mengupas beton, kemudian dibersihkan dan diisi dengan beton segar, beton baru ini dibuat dengan cara mengisi ruang kosong dengan agregat sampai penuh. Kemudian diinjection dengan mortar yang sifat susutnya kecil dan mempunyai ikatan yang baik dengan beton lama. Metode ini direkomendasikan dengan tambahan, bahwa sebelum pelaksanaan harus diketahui seberapa besar tingkat korosi baja tulangan. Apabila tingkat korosi masih bisa ditoleransi atau bisa dibersihkan dengan bahan kimia, maka metode ini bisa dilaksanakan. 3e). Jacketing. Perbaikan jacketing adalah melindungi beton terhadap kerusakan dengan menggunakan bahan selubung, dapat berupa baja, karet , beton komposit. 3f). Penambahan tulangan. Perbaikan penambahan tulangan untuk memperkuat elemen struktur seperti plat, balok dan kolom yang sudah rusak cukup parah, agar dapat berfungsi lagi sebagai pemikul beban. Metode ini direkomendasi dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan tulangan baja. Apabila tulangan baja terjadi korosi, maka metode ini bisa dilaksanakan. Dari beberapa metode perbaikan tersebut, untuk perbaikan rembesan air pada struktur Gedung Kantor BAPPEDA Wonogiri direkomendasikan sebagai berikut : (a). Untuk rembesan air dengan retak kecil dan sedang perbaikan dilakukan dengan epoxy injection. (b). Untuk rembesan air dengan waktu rembesan lama dan berulang-ulang yaitu pada kolom, balok dan plat teras depan menggunakan metode perbaikan, dengan gabungan antara epoxy injection, prepacked concrete dan penambahan tulangan, atau secara sendiri-sendiri bergantung pada tingkat korosi atau kondisi baja tulangan.

 

Kesimpulan mengenai metode identifikasi struktur bahwa telah banyak penelitian yang dilakukan mengenai identifikasi struktur baik karena faktor gempa maupun faktor dari kekuatan struktur itu sendiri. pada intinya identifikasi struktur menurut Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE., Ph.D, IPU dalam papernya adalah mempunyai tujuan utama untuk mengidentifikasi parameter fisik struktur maupun parameter ragam getaran, guna mengukur kekuatan dari struktur bangunan jika dikenai oleh beban gempa. Namun  identifikasi struktur tidak hanya bertujuan untuk ke arah penguatan struktur terhadap beban gempa. Karena dalam penelitian yang dilakukan oleh Henry Hartono terhadap analisis gedung BAPPEDA adalah identifikasi kerusakan struktur beton yang menyebabkan terjadinya rembesan air secara terus menerus.

 

Sumber Referensi materi Metode Identifikasi Struktur:

  1. Hartono, Henry. “Analisis Kerusakan Struktur Bangunan Gedung BAPPEDA Wonogiri ”, Penelitian Gedung BAPPEDA Wonogiri. Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
  2. Kimsan, Masykur. 2009. “Identifikasi Kerusakan Struktur Portal 2 Dimensi Dengan Metode Frequensi Respons Function (FRF) ”, Penelitian Thesis. Teknik Sipil, Universitas Haluoleo Kendali, Sulawesi Tenggara.
  3. Sarwidi (2005). “Studi Pola Kecenderungan Pemanjangan Periode Getaran Bangunan Riil”. Prosiding Seminar & Pameran HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia), Jakarta, Agustus 2005.
  4. Teruna Daniel Rumbi dan Singarimbun Hendrik. 2010. “Analisis Response Bangunan ICT Universitas Syiah Kuala Yang Memakai Slider Isolator Akibat Gaya Gempa”, makalah seminar dan pameran HAKI 2010.
  5. http://id.wikipedia.org/wiki/Metode.
  6. http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-musbarnim2-28545.
  7. 7.      ejournal.unud.ac.id/abstrak/7%20sudarsana%20ik%20_171-187_.pdf
  8. http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-musbarnim2-28545.
  9. 9.      lontar.ui.ac.id/file?file=digital/132985-T%2027798…pdf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s