Pengurangan Risiko Kerusakan dengan Kontrol Struktur Bangunan

Pada materi mengenai Kendali Struktur yang terdapat dalam situs http://www.scribd.com, mengenai Perilaku suatu sistem untuk dapat berlaku dan berjalan dengan baik pasti berada dalam suatu sistem yang terkendali, dimana pusat kendali ini menyebabkan sistem bekerja dengan  baik. Perencanaan struktur bangunan gedung sangat penting di Indonesia , karena posisi Indonesia yang berada di sekitar jalur subduksi lempeng yang menyebabkan wilayah Indonesia terletak pada zona seismik aktif dan tingkat kegempaan yang tinggi. Indonesia merupakan daerah yang rawan bencana gempa karena merupakan daerah tektonik aktif tempat bertemunya lempeng Eurasia di sebelah utara dengan lempeng Indoaustralia di sebelah selatan dan juga lempeng Pasifik di sebelah timur. Telah tercatat beberapa gempa signifikan yang membawa korban yang cukup banyak. Gempa Aceh, gempa Yogyakarta, gempa padang dan lain-lain. Dengan kondisi Indonesia yang demikian itu maka diperlukan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang timbul oleh bencana gempa tersebut, khususnya runtuhnya bangunan untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak lagi.

Continue reading

Identifikasi Kualitas Struktur Bangunan

Daniel Rumbi Teruna dan Hendrik Singarimbun dalam sebuah makalah yang disampaikan pada acara seminar dan pameran HAKI 2010 dengan judul “ Analisis Response Bangunan ICT Universitas Syiah Kuala Yang Memakai Slider Isolator Akibat Gaya Gempa ”, menjelaskan didalam pendahuluan bahwa besar kecilnya kerusakan komponen struktur dan nonstruktur akibat getaran tanah tidak hanya tergantung kepada karakteristik gempa saja. Namun ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi kerusakan bangunan akibat gempa. Yang pertama adalah faktor karakteristik dari gempa yang terjadi, antara lain: percepatan puncak muka tanah, durasi gempa, frekuensi gempa dan panjang patahan. Yang kedua adalah faktor karakteristik lokasi dimana bangunan didirikan, antara lain: jarak bangunan ke pusat gempa, struktur geologi antara bangunan ke pusat gempa, jenis lapisan dilokasi bangunan, dan waktu getar alami tanah di lokasi bangunan didirikan. Yang ketiga adalah faktor dari karakteristik struktur, antara lain: waktu getar alami dari struktur bangunan, redaman dari struktur bangunan, dan persyaratan serta konsep detailing yang direncanakan. Faktor yang pertama dan kedua diatas merupakan kejadian alam yang harus diperhitungkan pengaruhnya terhadap bangunan yang direncanakan, tetapi faktor yang ketiga merupakan properti dinamis dari bangunan yang dapat diubah atau direkayasa sedemikian rupa agar pengaruh gempa terhadap bangunan yang direncanakan dapat diminimalisir.

Continue reading

Manajemen risiko bencana gempa pada bangunan

Urutan dalam manajemen risiko bencana gempa terhadap bangunan adalah sebagai berikut:

  1. Tahap pengurangan
  2. Tahap kesiapsiagaan
  3. Tahap tanggap darurat
  4. Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi

Dengan memakai logika : mengurangi dulu baru siapa siaga, sehingga jika gempa terjadi maka diharapkan tidak terjadi kerusakan atau kerusakannya kecil.

1.  Tahap Pengurangan Risiko bencana

  1. Membuat peta ancaman (Hazard map).
  2. Membuat Design bangunan baru berbasis kinerja (performance based design).
  3. Melakukan evaluasi kerentanan bangunan yang ada terhadap gempa; Apakah: operational, immediate occupancy, life safety, atau collape prevention.
  4. Melakukan retrofitting untuk mengurangi kerentanan bangunan yang ada.

Continue reading

Pengurangan risiko bencana melalui Optimalisasi struktur bangunan

Banyaknya korban bencana gempa bumi justru tidak disebabkan oleh bencana itu sendiri melainkan akibat tertimpa oleh bangunan atau benda-benda lain yang menyebabkan orang di dalamnya bisa luka-luka atau bahkan meninggal. Sehingga sangat penting pada wilayah rawan bencana gempa bumi untuk melakukan optimalisasi kekuatan struktur bangunan apalagi pada bangunan-bangunan yang mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai pelayanan publik seperti rumah sakit dan sekolahan.

Tahap Evaluasi

Tahap pengurangan risiko bencana dapat dilakukan melalui evaluasi kinerja bangunan. Evaluasi dilakukan pada struktur utama bangunan seperti: pondasi, balok, kolom, pelat, dan ditunjang oleh atap dan dinding bangunan. Baru kemudian dilakukan evaluasi pada komponen tambahan yang menjadi komponen penunjang operasional/layanan dari fungsi bangunan tersebut.

Tahap kesiapsiagaan dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Pada bangunan, tahap ini dilakukan dengan cara inspeksi rutin atau audit bangunan.

Continue reading

kawasan di Jogja ini juga rentan

1. Jembatan Rentan roboh

Masih ingat pemberitaan di media media pada Nopember 2011 yang lalu bahwa di Kalimantan terjadi peristiwa runtuhnya jembatan yang menyeberangi sungai Mahakam “golden gate nya Kalimantan” yang menelan banyak korban jiwa? sudah tentu ambruknya jembatan adalah karena konstruksi jembatan yang tidak kuat terutama pada pemasangan pasak jembatan. padahal jembatan tersebut baru selesai dibangun pada tahun 2002 dan diperkirakan akan bertahan hingga puluhan tahun kedepan.

Nah waktu awal tahun 2012 waktu saya dan teman-teman kantor melakukan survey kecepatan tanah di daerah selatan Srandakan. Dan saat kami melewati jembatan di wilayah Srandakan saya melihat hal yang menarik dari gambar di bawah ini:

Continue reading

Manajemen Kebencanaan

Bencana alam di Indonesia bisa terjadi kapan saja, sehingga di Indonesia diperlukan penanggulangan, penanganan atau manajemen bencana guna mengurangi korban jiwa, harta, benda maupun kerusakan infrastruktur dan ekonomi yang diakibatkan oleh bencana. Penyelengaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencanatanggap darurat, dan rehabilitasi (UURI no.24,th.2007).

Tujuan dari Manajemen kebencanaan merupakan: Mengurangi atau menghindari kerugian secara fisik, ekonomi maupun jiwa yang dialami oleh perorangan, masyarakat, negara, mengurangi penderitaan korban bencana, mempercepat pemulihan korban dan wilayah yang terkena dampak bencana, dan memberikan perlindunagan kepada pengungsi atau masyarakat yang kehilangan tempat ketika kehidupannya terancam.

Faktor – faktor terjadinya bencana

Continue reading