Arin kuncahyani masuk harian Republika online

Iseng – iseng searching di google dan memasukkan nama lengkap saya : arin kuncahyani, ternyata nama saya sudah banyak termuat di mesin pencari itu. dan ngga sengaja juga nemuin berita ini nih :

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA-Belum juga ancaman letusan Gunung Merapi berakhir, ancaman bencana lainnya mendatangi Yogyakarta. Gempa mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada Kamis (28/10) pukul 08.39 WIB.

Data itu didapat dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta. Berdasarkan data itu, pusat gempa berada di 8.02 Lintang Selatan-110.49 Bujur Timur dengan magnitude sebesar 4 Skala Richter.

“Tepatnya pusat gempa berada di daratan di 13 kilometer barat daya Wonosari, Gunung Kidul atau hampir mendekati laut,” kata Staf Observasi Gempa Bumi BMKG Yogyakarta Arin Kuncahyani, Kamis (28/10).

Gempa dirasakan pula di Sleman dan Yogyakarta dengan durasi tiga detik, sehingga diprediksi tidak menimbulkan kerusakan. Menurut dia, gempa bumi ini bukan akibat letusan Gunung Merapi, tapi akibat pergerakan lempeng bumi yang berada di patahan selatan Yogyakarta. BMKG tidak bisa memprediksi apakah gempa bumi ini akan memicu aktivitas di Gunung Merapi atau tidak.

Reporter : Yulianingsih

Redaktur : Budi Raharjo

aku sadur dari situs ini : http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/10/28/143051-yogyakarta-diguncang-gempa-4-skala-richter

walau berita ini udah 4 tahun yang lalu, tapi bangga juga namaku udah masuk harian republika. trus kapan ya bisa merealisasikan jadi penulis opini atau sejenisnya di surat kabar atau majalah science….hhmmm baru angan-angan.

 
 

Pengurangan Risiko Kerusakan dengan Kontrol Struktur Bangunan

Pada materi mengenai Kendali Struktur yang terdapat dalam situs http://www.scribd.com, mengenai Perilaku suatu sistem untuk dapat berlaku dan berjalan dengan baik pasti berada dalam suatu sistem yang terkendali, dimana pusat kendali ini menyebabkan sistem bekerja dengan  baik. Perencanaan struktur bangunan gedung sangat penting di Indonesia , karena posisi Indonesia yang berada di sekitar jalur subduksi lempeng yang menyebabkan wilayah Indonesia terletak pada zona seismik aktif dan tingkat kegempaan yang tinggi. Indonesia merupakan daerah yang rawan bencana gempa karena merupakan daerah tektonik aktif tempat bertemunya lempeng Eurasia di sebelah utara dengan lempeng Indoaustralia di sebelah selatan dan juga lempeng Pasifik di sebelah timur. Telah tercatat beberapa gempa signifikan yang membawa korban yang cukup banyak. Gempa Aceh, gempa Yogyakarta, gempa padang dan lain-lain. Dengan kondisi Indonesia yang demikian itu maka diperlukan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang timbul oleh bencana gempa tersebut, khususnya runtuhnya bangunan untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak lagi.

Continue reading

Identifikasi Kualitas Struktur Bangunan

Daniel Rumbi Teruna dan Hendrik Singarimbun dalam sebuah makalah yang disampaikan pada acara seminar dan pameran HAKI 2010 dengan judul “ Analisis Response Bangunan ICT Universitas Syiah Kuala Yang Memakai Slider Isolator Akibat Gaya Gempa ”, menjelaskan didalam pendahuluan bahwa besar kecilnya kerusakan komponen struktur dan nonstruktur akibat getaran tanah tidak hanya tergantung kepada karakteristik gempa saja. Namun ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi kerusakan bangunan akibat gempa. Yang pertama adalah faktor karakteristik dari gempa yang terjadi, antara lain: percepatan puncak muka tanah, durasi gempa, frekuensi gempa dan panjang patahan. Yang kedua adalah faktor karakteristik lokasi dimana bangunan didirikan, antara lain: jarak bangunan ke pusat gempa, struktur geologi antara bangunan ke pusat gempa, jenis lapisan dilokasi bangunan, dan waktu getar alami tanah di lokasi bangunan didirikan. Yang ketiga adalah faktor dari karakteristik struktur, antara lain: waktu getar alami dari struktur bangunan, redaman dari struktur bangunan, dan persyaratan serta konsep detailing yang direncanakan. Faktor yang pertama dan kedua diatas merupakan kejadian alam yang harus diperhitungkan pengaruhnya terhadap bangunan yang direncanakan, tetapi faktor yang ketiga merupakan properti dinamis dari bangunan yang dapat diubah atau direkayasa sedemikian rupa agar pengaruh gempa terhadap bangunan yang direncanakan dapat diminimalisir.

Continue reading

Pengurangan risiko bencana melalui Optimalisasi struktur bangunan

Banyaknya korban bencana gempa bumi justru tidak disebabkan oleh bencana itu sendiri melainkan akibat tertimpa oleh bangunan atau benda-benda lain yang menyebabkan orang di dalamnya bisa luka-luka atau bahkan meninggal. Sehingga sangat penting pada wilayah rawan bencana gempa bumi untuk melakukan optimalisasi kekuatan struktur bangunan apalagi pada bangunan-bangunan yang mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai pelayanan publik seperti rumah sakit dan sekolahan.

Tahap Evaluasi

Tahap pengurangan risiko bencana dapat dilakukan melalui evaluasi kinerja bangunan. Evaluasi dilakukan pada struktur utama bangunan seperti: pondasi, balok, kolom, pelat, dan ditunjang oleh atap dan dinding bangunan. Baru kemudian dilakukan evaluasi pada komponen tambahan yang menjadi komponen penunjang operasional/layanan dari fungsi bangunan tersebut.

Tahap kesiapsiagaan dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Pada bangunan, tahap ini dilakukan dengan cara inspeksi rutin atau audit bangunan.

Continue reading

Tanda, karakteristik dan strategi efektif pengurangan risiko Tsunami

Tsunami adalah peristiwa yang jarang terjadi namun sebenarnya didahului oleh tanda-tanda terlebih dahulu. Tanda-tanda akan datangnya tsunami adalah:

  1. Tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi tektonik maka kejadiannya selalu didahului oleh gempa besar yang terjadi di dasar laut dengan kekuatan >7 SR pada kedalaman yang dangkal <60 km. lihat gambar.
  2. Mekanisme patahan gempa pada lempeng di dasar laut adalah jenis patahan naik/turun (normal/reverse fault)
  3. Sesaat setelah gempa terjadi, air surut terlebih dahulu menuju laut hingga mencapai panjang tertentu.
  4. Tsunami juga dapat terjadi karena peristiwa letusan gunung api di bawah laut, longsor di bawah laut, dan/atau akibat dari hamtaman meteor di tengah laut.

Air surut setelah terjadi gempa besar, masyarakat tidak segera menjauh dari pantai justru mencari ikan-ikan yg terdampar.

Karakter secara umum dari gelombang tsunami itu sendiri adalah:

  1. Tsunami mengandung berbagai komponen gelombang karena gelombang tsunami mengalami proses shoaling, refraksi, difraksi dan refleksi, yang pengertiannya saya tuliskan di postingan sebelumnya pada judul mengenal karakter tsunami.
  2. Kecepatan jalar gelombang tsunami berkaitan erat dengan kedalaman air laut yang dilaluinya. Sedangkan tinggi gelombang tsunami berbanding terbalik dengan kedalaman laut.
  3. Bila kedalaman laut berkurang setengahnya, maka kecepatan penjalaran gelombang berkurang tiga perempatnya. Sedangkan tinggi gelombang tsunami justru akan bertambah jika mendekati pantai, karena adanya perubahan kedalaman laut yang dilalui tsunami. Di laut lepas tsunami memiliki kecepatan merambat yang sangat tinggi, yaitu bisa mencapai 200 m/s atau 700 km/jam. lihat gambar.
  4. Berkaitan dengan panjang gelombang tsunami yang sangat panjang, Tsunami mempunyai energi yang sangat besar hal ini dikarenakan secara teoritis disebutkan bahwa kehilangan energi pada perambatan gelombang berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya. Sehingga dalam penjalarannya tsunami hanya kehilangan sedikit energi.

Continue reading

Durasi efektif gempa dengan metode Brady and Trifunac

Rekaman gempa pada umumnya dapat dibagi menjadi 3-bagian. Bagian pertama adalah bagian initial weak part, bagian ke-2 adalah bagian strong part, dan bagian ke-3 adalah bagian final weak part. Bagian ke-2 yaitu strong part adalah bagian yang menyumbang sebagian besar energi atau bagian yang paling merusakkan dan membahayakan. Pada umumnya durasi gempa diukur dari awal sinyal datang hingga sinyal gempa berakhir atau durasi total gempa, dan kenyataannya pemakaian durasi total Td untuk menyatakan damage potensial adalah tidak akurat, sehingga perlu diketahui pula durasi efektif dari bagian strong part gempa untuk menentukan seberapa lama bagian ini berpengaruh pada damage potensial.

Continue reading

Analisis Vp, Vs, Densitas dengan Metode Receiver Function

Metode Receiver Function adalah salah satu teknik yang digunakan untuk memperoleh informasi mengenai struktur bumi halus pada lempeng dan mantel atas (upper mantle), yang berada di bawah stasiun perekaman (receiver). Receiver Function terbentuk dari proses reverbrasi gelombang P karena pengaruh dari struktur lapisan di bawah stasiun perekam. Sehingga dari proses reverbrasi tersebut terbentuk seri waktu pada penjalaran gelombang P. Penelitian dengan metode Receiver Function ini menggunakan komponen radial dari data gempa Jogjakarta pada tanggal 27 Mei 2006, yang terekam pada tujuh stasiun seismik IPM, KKM, KOM, KSM, KUM, LDM dan SBM yang terletak di Malaysia. Data gempa dipesan dalam bentuk tiga komponen yaitu BHE, BHN, dan BHZ, yang diunduh dari situs internet milik IRIS. Data dipesan dalam bentuk format SEED dan dibaca dengan menggunakan program rdseed. Pengolahan data gempa dilakukan dengan menggunakan software Computer Program in Seismology (CPS) versi 3.30 yang dibuat dan dikembangkan oleh ahli geofisika R.B. Herrmann dan C.J. Ammon.

Continue reading